Pada jaman baehula tersebutlah radio tabung yang biasa disebut radio roti, dimana empunya masih didominasi kaum berpunya. Radio tersebut bagai lambang status sosial pemiliknya, karena hanya kaum berduit dan agak berduit saja yang bisa memilikinya. Tapi itu konon. Penulis pada zamannya radio tersebut pada puncak ketenarannya masih belum terlahir. Dicetakpun belum.
Radio Roti BIN 206U yang skemanya tertayang disini menurut desas-desus diluncurkan Philips Ralin pada 1951. Mengkonsumsi listrik 35-44Watt dengan tegangan 110-127 Volt 60Hz. Bandspread 13-150m (2-20MHz). Bagi dulur-dulur yang mempunyai opini soal spec radio antik ini silahkanlah angkat jari tinggi-tinggi dan menuliskan testimoninya di sini. Tentunya ini mungkin bermanfaat bagi sidang pembaca yang lain.
Philips BIN 326U

















NMAS ,KALU BUAT PESAWAT MBOKYTOO SING GEDE,ALANGKAH BAIKNYA PAKAI LAMPU CURUT JA KAYAK OWAK ODIK
mas radio2 itu drpd terlantar berkarat gitu, mendingan dikasih aja ke saya…
Dikopi paste ajalah Bang, ambil semuanya dah ya he he he he
WAK bul….ketoke sing gletakan iku opo 6AQ5?
Wah gak paham Mbah, barange saiki ngguk kandang pitik, bengi-bengi gak ilok blusukan ngguk kandang pitik. Horrorr
Sampeyan lek ngomong “ngguk” kandang pitik, koyok cak Baseman…. Pabcene kancane Kartolo
Aja sampeyan paido ae to Lik, weono duwik ae hahahahahaha guyon Lik
BIN206U biasa disebut “cacah gori” memang dibuat awal 50, semua diimpor dari Belanda lalu dirakit secara lokal di Bandung.Kebetulan saya masih menyimpan satu yang orisinal dan berfungsi penuh. Lalu BIN326U kalo tdk salah umum disebut “palang” karena plastik depannya berbentuk palang. Secara kualitas suara lebih bagus yang BIN326U karena ada option tone selector.
Untk dial lamp di semua radio BIN adalah 19V. Lalu R hijau di atas final-perata adalah R dropper untuk menurunkan 110 ke 19V dial lamp. Biasanya R tersebut saya ganti dengan C 3.25uF yg lebih dingin.
Karena radio BIN hanya bekerja di SW kebanyakan diubah ke AM dngan cara mengganti koil oscilator dan antennenya. Cukup ngelilit sendri dari bekas IFT radio tr.
Kalo boleh tau itu skema dapat dari mana mas? Apa nyalin sendiri dari buku babon Dokumen Service 25 Radio Indonesia yang dirilis oleh PN Ralin? Atau dari mana ya jadi penasaran, karena di terbitan PN Ralin yang BIN206U itu tidak ada gambar layout mesinnya lo.
Salaman
Wah wah terima kasih joint comment-nya Bang, ini yang sebenarnya kami rindu-rindukan, telah datang. Semoga info ini bermanfaat bagi kita semua.
Mengenai buku yang kami kopi manual tersebut mohon maaf kami kok lupa judulnya. Pinjam kepunyaan rekan, dan hanya sempat dikopi dua dari puluhan skema yang ada. Memang betul disana digambarkan pula tampak bawah mesin radio tersebut dalam bentuk seperti di atas. Seingat saya buku itu terbitan Philips Ralin. Covernya Tebal sekali, keadaan sudah lusuh.
Sami2 mas. Berarti betul itu ambil dari buku babon nyervis radio roti yang terbitan PN Ralin 1961.
Radio roti ini unik mas karena tidak perlu trafo sumber daya untuk menyalakan. Kabel langsung dicolokkan ke lubang PLN 110V. Ini terjadi karena filamen tabungnya diseri berjajar membentuk satu rangkaian utuh. Masing2 tabung memiliki nilai filamen yg berbeda, jika dijejer seri maka diperoleh nilai total filamen 116.6 atau setara 117V. Jadi tinggal colok ke 110 nyala semua lampunya.
Karna langsung colok ke PLN maka (+) msuk ke filamen dan (-) masuk ke casis radio. Jika kebalik masang polaritas steker listriknya maka (+) akan mengalir ke casing radio…akibatnya nyetrum semua bagian logam di radionya. Hati2…tapi cuman 110V thok, gak papa, rasane ndut2an kepenak. Lain cerita kalo 220V.
Jika sampean maksa colok langsung ke 220V maka terjadi kelebihan tegangan 220-117=103V. Tiap lampu rata2 akan kelebihan voltase 105/5=20V…dan itu sudah sangat berbahaya utk keshatan lampu dan pemiliknya. Oleh karena itu radio roti rilisan Philips wajib pake trafo stepdown.
Tapi beberapa radio roti cap Bush dan Braun sudah punya voltage selector untuk 220V sehingga aman untuk colok langsung. Tapi ati2 jangan kebalik.
Salaman.
wis ngene ae koh, tak ijoli gudang garam plie-ter 5 ae, chassing plastik-e owe bawa moleh,..hayo…(copy paste ae srun,…cape dech.tak mulungi gabah sik arep udan).
Bahaya. Juragan gabah, ini pasti tumpakane Mercy…
mercy opo cak, sepeda motor wae,…si jago mogok.
Preetttt… ngapusiiiii hik hik hik
Walah lha aku kok dadi kelingan jaman ngotak atik radione bapakku , Ralin , 3 gelombang . Ketoke sekemane kok mirip2 karo radione wak Kabul , nanging ono bedane sithik tabung audio nganggo UL84. Radio listrik Ralin tak rombak dadi pemancar AM tanpa trafo power suply , lha wong 110V di doubler langsung ….. yen nyoblos stekker kuwalik nggih langsung njenggirat kesetrum………
Koh kabul ki nyemoni aku ae,…opo gak cukup tah koh 10 milyar, ini info dari koh Mutarom yang punya istana gebang. ojo rabi maneh yo koh, ngenda-an wae,..qeqeqe..
Terimakasih yaa atas skema yang dipajang di situs ini , saya merasa sanagt terbantu sekali soal nya saya dapat lungsuran Radio tersebut dalam keadaan pecah pecah Kondensator nya dengan ada nya skema ini jadi lebih gampang nyari penggantinya.
Gimana apakah punya juga skema Bin 336 U , kalau ada tolong dong diupload juga
Best regards
Paman Dicky bisa cari ratusan skema radio di : http://www.radiotechniek.nl/login/index.php?a=home
disana ada skema radio tabung berbagai type dan merk.