Syahdan, pada jaman baehula, jamannya sepur lempung garis miring sepur GRUNG, tersebutlah radio tabung yang kondang dengan sebutan radio roti, roti sumbu, dimana empunya masih didominasi kaum berpunya. Radio tersebut seperti menjadi simbol status sosial pemiliknya, karena hanya kaum berduit dan agak berduit saja yang bisa memilikinya. Yang kagak berduit cukup numpang nguping di tetangga. Tapi itu konon. Penulis pada zamannya radio tersebut pada puncak ketenarannya masih belum terlahir. Dicetakpun rasanya juga belum.
Radio Roti BIN 206U yang skemanya tertayang disini menurut desas-desus diluncurkan Philips Ralin pada 1951. Dalam desas-desus tersebut dikatakan radio roti ini mengkonsumsi listrik 32-44Watt dengan tegangan 110-127 Volt 60Hz. Dengan wilayah pendengaran 13-150m (2-20MHz). Bagi dulur-dulur saudarak sadayanak yang mempunyai opini soal spec radio antik ini silahkanlah goyangkan jari dan menuliskan dongengnya di sini. Tentunya ini mungkin bermanfaat bagi dulur-dulur yang lain.
Radio jenis seperti ini dalam perjalanan zaman banyak yang mengalami nasib tragis. Dibantai, dimutilasi tubuhnya dan dijarah beberapa onderdilnya untuk menutup kebutuhan sebuah radio brik-brikan. Misalnya Trimmer, yang dicabuti guna melunasi kebutuhan sebuah pemancar FM, booster 2m, atau Varco besinya yang diboyong ke bokong pemancarnya seorang Kabul. Itupun masih dicabuti dulu rotor-statornya, hingga babak belurlah bentuk akhir Varco besi tersebut.
Masih beruntung Radio Roti yang diadopsi para kolektor barang antik. Kondisinya jauh lebih baik dibanding yang jatuh ke tangan oknum brik-brikan. Mereka mengalami reparasi, restorasi total untuk dikembalikan ke keadaan aslinya. Dengan demikian nilai dekorasi dan fungsi radio tersebut kembali utuh seperti pada zamannya.
Berikut gambar skema radio tersebut, sketsa dari Leonardo da Vinci gadungan, yang berkasnya ditemukan di sela onggokan kayu berdebu di belakang rumah penulis.
Continue reading ‘Cinta dalam sepotong roti’
Last Comment